Festering Scum Debut Lewat “Remnants of Decay”, Siapkan EP Perdana Inside The Guiltless Mind

Dari Tulungagung, Jawa Timur, muncul nama baru di skena death metal Indonesia, Festering Scum. Band yang terbentuk pada awal 2026 ini hadir membawa racikan musik yang mereka sebut sebagai Hardgore, memadukan riff lambat, groove berat, dan agresivitas tanpa kompromi.

Awalnya, proyek ini hanya berangkat dari eksperimen membuat materi musik yang lebih sederhana, groovy, dan mudah dinikmati. Namun, hasilnya justru berkembang menjadi identitas musikal yang kuat hingga akhirnya Festering Scum resmi dibentuk.

“Awalnya cuma bikin riff yang slow dan groove aja buat seneng-seneng, tapi ternyata kok enak hahaha. Yaudah akhirnya lanjut cari personel dan gas sampai sekarang,” ujar Aditya, founder Festering Scum.

Perjalanan mereka dimulai melalui single debut “Remnants of Decay” yang dirilis dalam format video musik melalui kanal YouTube BrutalMind pada 3 Juni 2026. Lagu ini menjadi pintu gerbang menuju EP perdana bertajuk Inside The Guiltless Mind yang dijadwalkan rilis tahun ini melalui BrutalMind Records.

Secara lirik, “Remnants of Decay” mengangkat perspektif seorang pembunuh berantai, mulai dari dorongan brutal saat melakukan aksi, tekanan mental yang terus membusuk, hingga pengaruh narkotika yang memicu hasrat menyimpang dan imajinasi sadis di luar batas kewarasan manusia. Atmosfer lagu ini juga terinspirasi dari film-film gore klasik era 1970–1980-an yang sarat ketegangan, jeritan, kesunyian, dan teror visual yang mengganggu.

“Ini menjadi sebuah pengalaman untuk menikmati alur seorang serial killer sekaligus cerita horor klasik yang tertumpahkan ke dalam nuansa musik brutal, groovy, dan agresif. Selayaknya menonton film gore, seperti yang kami tuangkan dalam single ini dan EP nantinya. Enjoy the soaked blood in your face!” ujar vokalis Afdonea.

Dari sisi musikal, Festering Scum mengusung pendekatan yang lugas dan langsung menghantam. Tanpa teknik yang berlebihan atau komposisi yang rumit, mereka berfokus menciptakan lagu-lagu brutal yang mudah dinikmati namun tetap meninggalkan kesan tidak nyaman bagi pendengarnya.

“Intinya saya mau bikin lagu yang nggak mumet dan nggak bikin orang mikir waktu dengerinnya,” tambah Aditya.

Untuk pengaruh musik, Festering Scum banyak terinspirasi oleh band-band seperti Dehumanized, Soils of Fate, Mortal Decay, dan Traumaside.

Proses rekaman EP dilakukan secara mandiri di markas milik Aditya, sementara sesi drum direkam di Volcanic Studio milik Avan dari Demented Heart. Artwork EP dikerjakan oleh Roni Gore dengan nuansa visual yang kotor, busuk, dan penuh teror. Adapun proses mixing dan mastering ditangani oleh Indra Cahya dari Texas Sicklab untuk menghasilkan karakter suara yang padat, berat, dan kasar sesuai identitas band.

Setelah perilisan video musik “Remnants of Decay”, Festering Scum akan melanjutkan langkah mereka dengan merilis EP Inside The Guiltless Mind serta mulai aktif tampil di berbagai panggung untuk menyebarkan virus groove brutal khas mereka kepada para metalhead Indonesia.

Untuk para penikmat musik ekstrem, Festering Scum hanya memiliki satu pesan sederhana: “Jangan lupa bersyukur.”

Rekomendasi